Diberdayakan oleh Blogger.
RSS
Container Icon

Miris Rasanya


Terhenyak olehku menyaksikan kisah nyata hidup manusia yang cukup membuatku nyengir. Betapa tidak, kisah ini seharusnya tak perlu terjadi jika diantara manusia-manusia yang ada bisa saling bersinergi membentuk kehidupan ideal yang penuh dengan damai dan bahagia. Tapi rupa-rupanya tidak banyak yang menyadari bahwa hal itu penting. Mungkin ini sebenarnya banyak terjadi dalam masyarakat kita.

Mungkin pendapat yang saya kemukakan akan bisa Anda setujui atau tidak karena masing-masing manusia memiliki pendapat berbeda. 

Miris sekali menyaksikan kehidupan yang semakin tidak jelas ini. Dampak kemiskinan tidak hanya membawa kesusahan lahiriah namun kondisi kejiwaan masyarkat sebenarnya pelu diperhatikan. 

Saya menyaksikan sendiri pada suatu pagi seorang anak laki-laki kira-kira berusia 13 tahunan dimarahi habis-habisan oleh ibunya gara-gara ia memakan lauk yang oleh ibunya disediakan untuk ayahnya. Bukan hanya itu, si ibu melempar piring hingga piring pecah di lantai. Bukan cuma itu, kemarahan yang meledak-ledak itu diiringi kata-kata pedas yang menyayat hati. Sedikit kutipannya, 
“Kamu keterlaluan, lauk ini untuk ayah kamu. Ibu bela-belain tidak makan biar lauk ini bisa dimakan ayahmu. Dahulukan yang bekerja!”

Apa yang terbesit di pikiran Anda ketika mendengarnya?
Saya sangat sedih mendengarnya. Betapa kemiskinan membawa pengaruh buruk di berbagai lini. Saya akan kemukakan pendapat saya satu persatu.

Pertama, saya detik itu juga merasa bersyukur kepada ALLAH SWT karena memberikan keluarga luar biasa, sempurna. Meski tidak sesempurna yang semestinya tapi saya merasa damai. Ayah saya seorang yang menyayangi anak-anaknya. Pernah ekonomi keluarga saya terhimpit sehingga harus makan seadanya. Tapi saat demikian, ayah saya tidak pernah meminta lauk khusus yang hanya boleh dimakan oleh beliau karena beliau yang bekerja. Beliau makan lauk yang sama dengan kami. Yang namanya istri pasti ingin melayani suaminya dengan yang terbaik, oleh karenanya ibu kami juga pernah mengkhususkan menyediakan lauk untuk ayah yang spesial. Dan ketika kami melakukan kesalahan dengan memakan lauk itu, ibu kami tidak marah. Beliau hanya menasihati kami dengan suara pelan, lembut, dan mendamaikan. Dan Anda tahu bagaimana reaksi ayah saya? Ayah saya malah mendahulukan kami. Ayah lebih senang jika lauk spesial itu untuk kami. Beliau berdua lebih memilih makan makanan biasa dan memberikan makanan spesial untuk kami. Syukur Alhamdulillah. Itulah cara orang tua saya membesarkan saya dan menjadikan saya orang yang berempati kepada orang lain.

Bagaimana dengan kisah tadi?
Sangat miris ternyata, betapa ayah anak laki-laki itu kurang bijaksana. Seandainya memang tidak cukup untuk membeli lauk spesial, seyogyanya tidak perlu memaksakan hingga terbelilah lauk itu tapi hanya cukup untuk dirinya sedangkan istri dan anaknya hanya makan dengan lauk sederhana. Kalau saya jadi orang tersebut, pasti tidak sanggup makan, karena melihat keluarga saya tidak bisa makan yang saya makan! Tapi dia? Astagfirullah.

Berikutnya, si ibu memarahi anaknya karena dia sudah berkorban dengan tidak makan apa-apa demi membahagiakan si suami karena suaminyalah yang mencari nafkah. Mulia sekali istri yang demikian. Tapi mengapa sampai marah-marah seperti itu? Itu karena kejiwaan si istri. Anda mengerti maksud saya?
Begini, tentulah sebelumnya sudah ada kejadian yang serupa yang menjadikannya demikian. Saya pastikan bahwa sebelumnya terjadi hal serupa dimana ketika lauk yang diinginkan si suami sudah habis sebelum dinikmati si suami itu dan dia marah-marah kepada istri atau melakukan tindakan tertentu yang menjadikan si istri takut dan jera sehingga tidak ingin mengalaminya lagi. Ini yang biasa kita kenal dengan “trauma”. Itu menjadikan “pukulan jiwa” luar biasa bagi si istri.

Bagaimana dengan si anak laki-laki itu? Kalau menurut saya, anak seumuran dia memang belum peka perasaannya atau bisa dibilang belum sanggup memahami keadaan yang ada yang mengharuskan ia mampu bersikap sesuai dengan yang dipikirkan orang tuanya. Dengan melihat lauk spesial yang berbeda dengan menu untuknya tentunya ia tergiur untuk memakannya. Lagipula, bukankah orang tua berjuang sedemikian keras memang untuk anak-anaknya?? Kalau sudah seperti ini, untuk apa perjuangan itu jika anaknya tidak dapat menikamti hasil kerja keras orang tuanya malahan sejak kecil sudah terbiasa dengan ketidakadilan dalam rumahnya?

Anak dididik di rumah sebagai tempat pembelajaran utama. Jika anak terbiasa berada dalam lingkungan yang salah maka ia akan terbentuk menjadi pribadi yang serupa dengan lingkungannya. Jika keadaan ini terus berlanjut maka si anak akan tumbuh menjadi anak yang kurang mampu berempati, anak egois, anak kasar, dan berbuat tidak adil di kemudian hari. Bukankah kejadian tadi menunjukkan pendidikan yang demikian? 

Sungguh miris kehidupan masyarakat sekarang. Saya yakin orang-orang yang memiliki keadaan yang mirip seperti tadi hanya berpikir untuk memiliki uang dan bisa mencukupi kehidupan sehari-hari saja. Mereka bahkan tidak peka bahwa sesungguhnya ada masalah kejiwaan serius yang harus segera diobati. Mereka membiarkan begitu saja keadaan demikian tanpa berpikir apa yang akan terjadi di masa mendatang pada anak-anaknya.

Sobat, beruntunglah Anda yang mau berpikir dan mau introspeksi diri dengan belajar pada kondisi orang lain. Beruntunglah Anda yang mau merasakan betapa ada banyak hal yang harus kita perhatikan agar kehidupan kita bisa menjadi lebih baik. Oleh karenanya mari, saya mengajak Anda sekalian untuk berpikir ulang tentang kehidupan kita. Sudahkah kita menjadi bagian orang-orang yang “paham”?

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar